res

Apa Yang Terjadi Ketika Rupiah Terus Melemah? - Cakrawala Online
Segenap Pimpinan dan Keluarga Besar PT Cakrawala Merdeka Mediatama Group Mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional

Breaking

Cakrawala Online Hari ini

Apa Yang Terjadi Ketika Rupiah Terus Melemah?

18 Mei 2026

Apa Yang Terjadi Ketika Rupiah Terus Melemah?


 Jakarta - Cakrawala Online,  Presiden Prabowo Subianto menyinggung nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah hingga tembus Rp 17.500. Menurutnya, fluktuasi nilai tukar dolar AS tak perlu terlalu dikhawatirkan oleh masyarakat, khususnya di desa.

Pengamat Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Gigih Prihantono menilai melemahnya rupiah terhadap dollar tetap saja berpengaruh bagi seluruh warga Indonesia baik yang tinggal di perkotaan maupun desa.

"Yang harus disadari bahwa kita punya ketergantungan impor bahan baku, ataupun barang setengah jadi dan barang jadi. Sehingga ini sangat membebani masyarakat secara langsung mulai dari ke atas dan di bawah baik kota atau di desa," kata Gigih saat dikonfirmasi detikJatim, Minggu (17/5/2026).

Menurut Gigih, warga desa memang tidak bertransaksi menggunakan dollar. Namun, barang-barang impor seperti pakaian, elektronik hingga kendaraan tetap masuk di desa dan banyak warga yang membutuhkan.

"Masalah dalam lagi, memang orang desa tidak membayar pakai dollar, tapi harga rupiah-nya itu penting. Ketika impornya naik, maka barang kita mayoritas barang jadi misal baju, sepeda motor, elektronik ini kan banyak impor dan ini menyebabkan tekanan di kelas bawah," jelasnya.

Gigih juga menyoroti soal banyaknya regulasi yang memberatkan para pelaku usaha saat ini. Saat ini, para pelaku usaha dibebani regulasi otoritarian.

"Untuk memperbaiki nilai tukar, jalan satu-satunya deregulasi. Jadi pangkas semua aturan-aturan yang memberatkan para pelaku usaha. Jangan seperti sekarang kita malah mengetati regulasi. Kita ini menuju ke otoritarian ya, perekonomian tidak jalan. Kalau zaman orde baru otoritarian iya, tapi perekonomian jalan," bebernya.

"Kalau sekarang kita menuju ke otoritarian, tapi dunia usaha di otoritarian-kan. Nah ini nggak bisa, dunia usaha itu semakin di high regulasi semakin dia tidak bergerak bebas dia akan mengalami kemunduran. Jalan paling cepat permudah regulasi untuk para pelaku usaha," tandasnya.


Tak Pakai Dolar AS Bukan Berarti Aman!


Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, mengatakan meskipun masyarakat desa tak menggunakan dolar AS untuk transaksi, tapi dampak pelemahan rupiah tetap akan menjalar hingga ke desa. Sebab, ekonomi Indonesia sudah semakin terintegrasi dengan sistem global di mana banyak kebutuhan masyarakat desa yang terkait dengan barang impor.

Barang-barang tersebut mulai dari LPG, pupuk, kendaraan bermotor, hingga barang elektronik.

"Jangan dikira pelemahan nilai rupiah terhadap dolar yang sudah Rp 17.600 itu tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik di level desa," ujarnya saat dihubungi detikcom, Minggu (17/5/2026).

"Emangnya orang desa nggak pakai barang-barang impor. Mulai dari handphonenya, kendaraan bermotor, komponen elektroniknya, mesin cucinya itu semua akan terpengaruh. Pupuknya pun juga akan terpengaruh harganya yang ada di sentra sentra pertanian kalau rupiahnya makin melemah," sambungnya.

Bhima mengatakan, pemerintah seharusnya mulai menyiapkan skenario mitigasi, bukan justru terkesan menantang situasi tanpa persiapan.

"Di Indonesia ini seolah justru menantang, tapi tanpa persiapan. Saya kira sikap dan komunikasi seperti ini sangat sangat membahayakan karena masyarakat seolah dibuat tenang tapi tidak siap dengan sudden shock. Pemimpin di negara lain justru menyiapkan skenario terburuk karena efek perang masih panjang," katanya.

Ia mengingatkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS sudah mencapai sekitar 7% dalam satu tahun terakhir. Menurutnya kondisi itu menjadi alarm yang perlu dicermati serius karena bisa berdampak terhadap investasi dan ketenagakerjaan.

"Itu semua tinggal menunggu waktu saja sampai harga-harga akan menekan di pedesaan dan jangan salah juga, kalau rupiahnya terus melemah terhadap dolar, PHK massal, desa itu akan dibanjiri oleh mereka yang jadi korban PHK di perkotaan kembali lagi ke desa tapi tidak berkerja, dan tidak berpenghasilan kan itu akan jadi beban desa," ujarnya.


Apa yang Terjadi Jika Rupiah Terus Melemah?


Lalu, apa yang terjadi jika rupiah terus melemah? Sejumlah pakar dan akademisi di perguruan tinggi angkat bicara soal potensi dampak yang akan terjadi jika rupiah terus melemah. Beberapa di antaranya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.


1. Harga Kebutuhan Pokok Naik


Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Rijadh Djatu Winardi, SE, M Sc, Ph D, mengatakan melemahnya nilai tukar rupiah dapat membuat harga kebutuhan pokok meningkat. Kenaikan harga dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan baku impor dalam rupiah.

Rijadh menjelaskan, ketika perusahaan masih bergantung pada penggunaan bahan baku impor tersebut, maka perusahaan tersebut nantinya harus menyesuaikan harga barang dalam beberapa bulan kemudian.


2. Biaya Transportasi-Kesehatan Naik


Dampak di atas tak hanya terjadi pada harga barang pokok. Penggunaan bahan bakar dan obat-obatan impor juga membuat biaya transportasi dan kesehatan dapat mengalami kenaikan.

"Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak," kata Rijadh, dikutip dari laman UGM, Minggu (17/5/2026).


3. Beban Subsidi-Utang Naik


Sementara itu, ketergantungan pada impor juga dapat meningkatkan beban subsidi energi saat nilai tukar rupiah melemah.

Ia menambahkan, pelemahan nilai tukar rupiah juga membuat nilai pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri dalam rupiah membesar, meskipun besarannya masih sama dalam mata uang dolar.


4. Pembiayaan Sektor Lain Terbatas


Rijadh menyoroti bahwa dengan naiknya beban subsidi dan utang luar negeri, pembiayaan untuk sektor penting lainnya bisa terdampak. Termasuk di antaranya yakni sektor pendidikan.

"Ketika ruang fiskal terserap untuk subsidi dan utang, maka fleksibilitas pemerintah untuk membiayai sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, atau perlindungan sosial menjadi terbatas," ucapnya.

Selaras, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (Unand), Dr Hefrizal Handra, mengatakan kombinasi peningkatan subsidi dan kompensasi energi, kebijakan efisiensi belanja, dan penurunan transfer ke daerah dapat mendorong pasar menyesuaikan risiko (risk repricing) di Indonesia.

Wakil Rektor II Unand ini menilai fundamental ekonomi dan sektor riil Indonesia masih relatif terjaga. Namun, situasi saat ini harus direspons dengan menjaga stabilitas nilai tukar, kredibilitas fiskal, dan penguatan struktur ekonomi agar tidak berkembang menjadi krisis.

"Ini bukan krisis, tetapi jelas ujian yang serius. Jika tekanan global berlanjut tanpa respons kebijakan yang kuat dan kredibel, kondisi ini bisa berkembang menjadi krisis," ucapnya.


5. Produk Asal RI Lebih Kompetitif


Di sisi lain, Dosen FEB UGM Eddy Junarsin, Ph D, CFP, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah dapat berdampak baik pada harga produk Indonesia yang menjadi lebih murah di mata pasar internasional. Dengan demikian, harga barang Indonesia dapat lebih bersaing.

Menurutnya, dampak produk asal Indonesia yang menjadi lebih kompetitif juga dapat meningkatkan ekspor dan pembukaan lapangan kerja baru.

Jika biaya produksi di negeri menjadi relatif lebih murah bagi investor asing, menurutnya, hal ini dapat memicu foreign direct investment (FDI). Namun, potensi ini tidak berlaku bagi industri yang bergantung pada impor.

"Industri yang bergantung pada impor, seperti energi, pangan impor, serta mesin dan alat berat, justru akan terdampak karena biaya menjadi lebih mahal," kata Eddy. rh- Sumber: detik.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar