res

Misteri Nyi Roro Kidul, Dan Kisah Asmaranya Dengan Raja Jawa - Cakrawala Online

Breaking

Cakrawala Online Hari ini

Siklus Sejarah Terbentuknya Kecamatan Manggelewa

08 Oktober 2022

Misteri Nyi Roro Kidul, Dan Kisah Asmaranya Dengan Raja Jawa

 


Kisah tentang sosok Nyi Roro Kidul masih menjadi fenomena menarik sepanjang masa.

sebagian kalangan menganggapnya hanyalah khayalan, namun tidak sedikit pula yang menganggap penguasa laut selatan tersebut benar-benar adanya.

Lalu, siapa sebenarnya tokoh Nyi Roro Kidul ini?

Suatu waktu laut selatan Pulau Jawa oleng, menggelegak macam air panas di kuali. Kemilau udara lautan luas yang biru, menciptakan keruh berbuih mendidih, terguncang gempa.

Ikan-ikan pada berlompatan mati kepanasan.

Para jin, setan periperayangan, risau menyaksikan perubahan gejala aneh di laut selatan, karena gemuruh ombak taufan itu terasa panas-dingin tak menentu sampai menembus dasar laut diantar angin tujuh keliling.

Nyai Roro Kidul, ratu alam gaib di dasar samudera itu pun tersentak kaget.

Selamanya tahun hidupnya, baru kali ini melihat perubahan alam yang aneh di istananya.

Apa gerangan yang sedang terjadi? Segera Nyai Roro Kidul melesat ke luar dan berdiri di permukaan air laut yang memandang bumi. Namun ternyata dunia terang benderang, tak ada apa-apanya.

Janya di tepi laut itu memang ada seorang lelaki berdiri bersedekap mengheningkan cipta. Apakah dia penyebabnya?

Nyai Roro Kidul pun terdiam menunggu. Diamat-amati lelaki yang berdiri semadi tenang itu; dan kaget setelah tahu dia ternyata adalah Panembahan Senopati. Tak salah, tidak keliru, berarti dialah penyebab prahara laut selatan.

Gemuruh ombak laut panaspun semakin tak terputuskan, sampai menciptakan gunung-gunung gelombang.

mengingat kesaktian Panembahan Senopati yang luar biasa itu, Nyai Roro Kidul diiringi dengan menyenangkan mendekat dan berdoa memohon belas kasihan, agar sang panembahan mendengarkan tapa brata-nya.

Sebagai balasannya, maka Roro Kidul bersedia memenuhi permintaan Senopati yang ingin menjadi raja sampai ke anak cucunya.

Penguasa samudera selatan yang cantik jelita itu akan membantu apa saja demi kejayaan pemerintahan Senopati, termasuk kelak jika bumi Mataram kedatangan musuh, makhluk-makhluk halus laskar Ratu Kidul bahkan siapnya.

"Kami akan segera mengirimkan setan-setan berikut genderang perang," kata Nyai Roro Kidul meminjam. pulau itu pula gemuruh air laut hilang. Dan tak ada badai tak ada gelombang, bahkan ikan-ikan dan semua makhluk laut yang mati hidup kembali.

Singkat cerita, Panembahan Senopati terpikat, lalu jatuh cinta. Mereka berdua akhirnya berjalan di atas laut menuju istana.

Konon cerita keindahan istana itu tak ada tandingannya di dunia. Pagar kelilingnya saja terbuat dari batu bata emas, penuh dengan tanaman serta bunga dan buah dari berbagai jenis ratna mutu manikam.

Dihadapan sekalian jin, setan, Senopati dan Nyai Roro Kidul duduk di balai-balai tempat bersantai.

Di sinilah setiap hari Panembahan Senopati menerima berbagai ilmu pelajaran: ketatanegaraan, ilmu pemerintahan, manusia, dan peri, berikut percobaan sampai ke dunia percintaan.

Selama tiga hari tiga malam, mereka bermesraan layaknya suami-istri.

Semua ilmu mempersembahkan Nyai Roro Kidul, menjadi bekal bagi Senopati untuk hadir sebagai raja sakti mandraguna, bijaksana, penguasa tanah Jawa yang tiada duanya.

Setelah dirasa cukup, Panembahan Senopati pun mohon diri kembali ke bumi. Namun sebelumnya sang Panbahan sempat bertanya, bagaimana caranya memanggil sang ratu jika suatu saat Mataram kedatangan musuh?

Ratu penguasa laut selatan itu tersenyum dan menjawab, "Bersedekaplah sambil berdiri suku tunggal memandang langit, maka aku dan tentaraku akan segera membawa kemenangan."

Akhirnya terjalinlah hubungan yang abadi, karena sesuai janji Roro Kidul akan selalu berhubungan dengan seluruh raja Jawa keturunan Panembahan Senopati hingga kini.

Maka selama Kerajaan Mataram ada, tokoh penguasa dedemit Pulau Jawa ini akan tetap disembah dan dimintai berkah.

Jadi makhluk halus yang membuat bulu roma ini, sesungguhnya tidak memiliki hal buruk, bahkan sebaliknya mulia karena dipercaya menjaga keraton dan rakyat Mataram sekarang hingga.


Bahkan sampai sekarang terlihat semakin jelas, karena seringnya diperingati dalam bentuk upacara labuhan atau terpentaskan dalam teater tertutup berbentuk seni tari bedaya ketawang dan bedaya semang.

Wajar jika kemudian mitos Nyai Roro Kidul melebihi kisah Babad Tanah ]awi dan kebesaran Kerajaan Mataram sendiri.

Setahun sekali Keraton Yogyakarta pasti melakukan upacara tradisi labuhan di Parangkusuma.

Labuhan adalah persembahan sesaji yang ditujukan kepada Kanjeng Ratu Kidul.

Tradisi ini bukan untuk seluruh gengsi keraton atau untuk kepentingan wisatawan melainkan demi keselamatan raja, keraton, dan rakyatnya.

Ambil contoh Sri Paku Buwono XII dari Keraton Solo pada tahun 1985 melakukan labuhan guna keselamatan rakyat dan keraton setelah mengalami musibah kebakaran.

Untuk menciptakan keserasian hubungan dengan Ratu Laut Selatan ini, Kasunanan Surakarta akhirnya membangun panggung Sanggabuwana sebagai tempat pertemuan mereka berdua.

Sedangkan Kasultanan Yogyakarta dengan memilik sumur gemuling, warisan bawah tanah di Tamansari Keraton Yogyakarta yang konon tembus sampai laut selatan sebagai tempat hubungan antara Sunan dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Tapi hubungan cinta mereka ini oleh sejarawan Prof. Dr. Edi Sedyawati diartikan sebagai hubungan yang bersifat adikodrati bukan hubungan asmara duniawi.

"Maka dari itu," tulis Edi dalam Prisma no. 7 Juli 1991, "hubungan cinta mereka tak pernah membuahkan anak."

Menyinggung hubungan asmara ini, sejarawan IKIP Sanata Dharma Yogya, Suhardjo Hatmosuprobo, menyatakan hubungan suami-istri Raja Jawa dan Ratu Kidul itu hanya berlaku sebelum Perjanjian Gianti 1755.

Sesudah Mataram pecah terbagi dua, masing-masing raja Yogyakarta dan Surakarta sama-sama menganggap Kanjeng Ratu sebagai eyang, bukan istri.

Semua raja Jawapun bisa berkomunikasi dengan Ratu Kidul.

Tidak percaya? Sekadar contoh silakan baca Tahta Untuk Rakyat hlm. 103.

Dalam buku tersebut jelas sekali di Hamengku Buwono IX menceritakan pengalamannya bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul setelah menjalankan puasa. Pri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar