res

TRADISI CERA LABU DIBAHAS MENDALAM DALAM FGD DI DOMPU-DUA POIN DI TIADAKAN - Cakrawala Online
Segenap Pimpinan dan Keluarga Besar PT Cakrawala Merdeka Mediatama Group Mengucapkan Selamat Hari Raya Idhul Fitri 1 Syawal 1447H

Breaking

Cakrawala Online Hari ini

TRADISI CERA LABU DIBAHAS MENDALAM DALAM FGD DI DOMPU-DUA POIN DI TIADAKAN

19 April 2026

TRADISI CERA LABU DIBAHAS MENDALAM DALAM FGD DI DOMPU-DUA POIN DI TIADAKAN



Dompu-Cakrawalaonline, Tradisi _Cera Labu_ dibahas secara spesifik dan mendalam dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Kafe Laberka Dompu, Sabtu (18/4/2026).


FGD dibuka Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Dompu, Muhammad Nukman. Pj. Sekda Dompu, H. Khairul Insyan, turut hadir memberi arahan. Bertindak sebagai narasumber Ilham, tokoh muda Desa Soro, Kecamatan Kempo, dan Muhammad Iradat dari Komunitas Padompo, komunitas yang fokus pada pelestarian sejarah dan budaya Dompu.


Pj. Sekda H. Khairul Insyan mengungkapkan, prosesi _Cera Labu_ dulunya menjadi salah satu _supporting event_ Festival Pesona Tambora (FPT) yang digelar tiap April pada masa kepemimpinan Bupati Bambang M. Yasin. “Dulu dalam rangkaian Festival Tambora, Cera Labu menjadi salah satu _support event_,” ujarnya.


*Lima Tahun Vakum*  

Diskusi yang dipandu moderator Nursyamsiah, wartawati senior, berlangsung dinamis. Seluruh peserta diberi ruang menyampaikan masukan soal _Cera Labu_.


Dosen STKIP YAPIS Dompu, Sukardin, yang menginisiasi FGD, menyebut tradisi ini vakum sekitar 5 tahun terakhir. “Karena sekitar 5 tahun terakhir ini tradisi Cera Labu tidak lagi dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Soro,” ungkapnya.


Tim beranggotakan 15 orang telah turun survei dan menyebar kuesioner. Hasilnya, hampir semua warga menghendaki tradisi ini dihidupkan kembali.


*Makna Cera Labu*  

Tradisi _Cera Labu_ hanya ada di Desa Soro, Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu, NTB. Bentuknya ritual tolak bala dan ungkapan syukur atas hasil alam berupa pelarungan kepala kerbau ke laut, diiringi doa dan kesenian tradisional.


Mewakili masyarakat Desa Soro, Ilham menjelaskan _Cera Labu_ memuat nilai religius dan gotong royong. “Prosesi ini diawali dengan doa-doa dari tokoh agama dan melibatkan masyarakat secara umum,” katanya.


Ilham menambahkan, pelarungan kepala kerbau bersifat simbolik karena merupkan inti dari pada cera labu ungkapnya , 19-4-26. Kerbau dianggap hewan penurut yang oleh sebagian orang dimaknai sebagai “kebodohan”. “Membuang kepala kerbau artinya kita membuang kebodohan yang ada dalam diri kita,” jelasnya. Kebodohan yang dimaksud meliputi sifat negatif seperti sombong, serakah, hingga durhaka.


Dampak ekonominya nyata. Saat tradisi digelar, pedagang lokal mengalami peningkatan pendapatan signifikan. Dosen Ilyas Yasin menambahkan, hasil survei menunjukkan tiga bulan pasca _Cera Labu_, warga tidak melaut. “Artinya membiarkan ikan maupun udang di dalam laut untuk tumbuh besar,” ujarnya.


*Perdebatan Budaya dan Agama*  

Pembahasan mengerucut ke titik sensitif: irisan budaya dan syariat. Ketua MUI Kabupaten Dompu periode 2015–2020, KH. Abdullah Arsyad, pernah menyebut tradisi _Cera Labu_ termasuk syirik. Pernyataan itu dimuat http://koranlensapos.com edisi 2 Mei 2018 berjudul “Ketua MUI Dompu: Cera Labu Termasuk Syirik kepada Allah”.


Dalam FGD, peserta menyampaikan pandangan beragam namun santun. Ada yang menilai budaya harus dipisah dari agama. Ada pula yang berpendapat ritual budaya yang bertentangan syariat harus dihilangkan, terlebih yang mengandung kesyirikan.


Pelarungan kepala kerbau dinilai syirik bila diniatkan sebagai persembahan kepada “penguasa laut”. Selain itu dianggap _tabdzir_ atau menyia-nyiakan harta. “Lebih baik dimakan bersama atau dibagikan kepada warga yang membutuhkan,” usul salah satu peserta.


*Rekomendasi: Festival Cera Labu*  

Muhammad Iradat dari Komunitas Padompo mengusulkan _Cera Labu_ tetap dilaksanakan, namun ritual berbau syirik dihilangkan. “Akan lebih bagus lagi diadakan Festival Cera Labu. Apalagi sekarang ada spot hiu paus,” katanya.


Usulan itu disambut antusias. Peserta FGD sepakat mendorong Festival Cera Labu yang dirangkai dengan wisata spot hiu paus, lomba perahu layar, bersih pantai, penanaman mangrove, dan bazar produk khas warga.


Moderator Nursyamsiah menyimpulkan tiga rekomendasi FGD:  

1. *Tradisi Cera Labu tetap dilaksanakan* dengan prosesi yang dimodifikasi.  

2. *Ritual pelarungan kepala kerbau dihilangkan*, diganti acara makan bersama.  

3. *Digagas Festival Cera Labu tahunan* yang memadukan wisata, konservasi, dan pemberdayaan ekonomi lokal.


 Pemerhati budaya di luar FGD: ritual menambahkan penyiraman air kotor kepada tamu sebaiknya dihilangkan karena memberi citra buruk bagi pengunjung. “Kalau memang Festival Cera Labu tetap diadakan, ritual penyiraman dengan air kotor supaya dihilangkan karena itu budaya tidak baik usulnya.zun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar