Jakarta - Cakrawala Online, Diagnosis kista ovarium sering kali menjadi momok yang menakutkan bagi kaum hawa. Banyak perempuan yang langsung membayangkan meja operasi atau bayang-bayang kemandulan begitu mengetahui ada kantung abnormal di indung telur mereka. Kabar baiknya, tidak semua kasus kista ovarium harus berakhir di ruang bedah.
Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi dari Brawijaya Hospital Antasari, dr M Luky Satria Syahbana Marwali, SpOG, SubspKFER, menegaskan bahwa tindakan medis terhadap kista ovarium sangat bergantung pada jenis, ukuran, dan sifat keluhan yang dirasakan pasien.
"Jadi tergantung jenis kistanya, ukuran kistanya, ya. Jadi ada yang kista-kista yang kalau ukurannya masih kecil ya bisa diobservasi aja, dibiarin aja. Dan nggak ada curiga ke arah keganasan ya. Kalau misalnya [tidak] ada curiga ke arah keganasan, ukurannya kecil, dan jenis kistanya juga bukan jenis kista yang bisa risiko terpuntir atau pecah, itu sih biasanya diobservasi aja, selama nggak ada keluhan," jelas dr Luky saat berbincang dengan detikcom, Senin (25/5/2026).
Langkah pemantauan berkala (observasi) tanpa operasi yang dipaparkan di atas didukung kuat oleh panduan medis internasional. Berdasarkan studi dalam Green-top Guideline No. 62 yang dirilis oleh Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG), mayoritas kista ovarium pada wanita usia subur bersifat fisiologis, jinak, dan fungsional.
Riset tersebut menunjukkan bahwa kista sederhana dengan ukuran di bawah 5 cm memiliki risiko keganasan yang sangat rendah dan umumnya dapat mengecil atau hilang dengan sendirinya dalam waktu 2 hingga 3 siklus menstruasi. Oleh karena itu, tindakan operasi yang terburu-buru justru dihindari agar tidak merusak jaringan sehat ovarium yang dapat menurunkan cadangan sel telur pasien.
Kondisi Kista Harus Dioperasi
Namun, jika kista ternyata terus membesar, menimbulkan nyeri hebat, atau dikhawatirkan mengalami komplikasi seperti pecah atau terpuntir (torsi ovarium), maka tindakan pembedahan barulah menjadi indikasi mutlak. Kabar baiknya, dunia kedokteran ginekologi saat ini telah berevolusi total meninggalkan teknik bedah konvensional yang membutuhkan sayatan lebar di perut.
dr Luky menambahkan bahwa hampir seluruh operasi kandungan saat ini telah beralih ke metode minimal invasif atau laparoskopi, yang hanya membutuhkan sayatan hitungan milimeter dengan waktu pulih lebih cepat bagi pasien.
"Semua operasi mengarah ke minimal invasif. Ibaratnya kalau jaman dulu orang naik kuda, sekarang kan naik mobil. Kan gitu kan?" seloroh dr Luky. rh - sumber: detikhealth

Tidak ada komentar:
Posting Komentar